Tampilkan postingan dengan label random thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random thought. Tampilkan semua postingan

jarum jam ke kanan


Jarum jam bergerak ke kanan. Menandakan waktu bergerak ke depan, menuju ke masa depan. Menuju pencapaian-pencapaian yang didambakan. Katanya, itu yang dinamakan kehidupan. Karena manusia menuju kematian. Dan seringnya itu yang dikhawatirkan.
Perubahan adalah hal mutlak yang dihadapi manusia. Lahir, tumbuh besar, mengenal sekolah dan kuliah, bekerja dan menikah, mempunyai anak dan membesarkannya, kemudian tua dan mati. Anaknya pun akan meneruskan hal yang sama. Monoton? Tampaknya iya. Namun perubahan yang dihadapi dalam menjalani proses tersebut menciptakan hal-hal yang tentu tidak monoton. Proses itu hanyalah skema kehidupan. Yang lebih penting adalah hal apa saja yang mengisi skema tersebut, yang nantinya disebut sebagai pengalaman.
Pengalaman memberikan sesuatu yang tidak monoton dalam kehidupan.
Saya mencoba memahami sebuah skema tersebut dan melihat ke dalam diri saya. Pengalaman yang saya dapat, saya capai, saya usahakan dalam hidup saya, apakah sudah memberikan saya kehidupan? Kehidupan yang bagaimana? Yang dibentuk orang lainkah? Atau memang seperti yang saya inginkan? Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan seseorang sedikit banyak dipengaruhi hal-hal disekitarnya. Namun, diri sendiri yang menentukan, mengambil keputusan. Pengalaman, bagi saya, adalah segala hal yang saya peroleh dan ciptakan, dan membentuk saya.
Jarum jam bergerak ke kanan menuju masa depan. Akan ada banyak kejutan yang menanti. Akan ada banyak kekecewaan menanti. Akan ada banyak kebahagiaan yang menanti.

pesan moralnya apa?


“Jadi, pesan moral dari ceritanya apa?”
Tak jarang saya mendapatkan pertanyaan seperti itu jika saya diminta memberikan referensi sebuah buku pada seorang teman atau pada siapa saja. Saya tidak segera menjawab. Malahan saya berpikir, apakah selalu sebuah buku memberikan kita sebuah pesan di dalamnya atau mungkin buku itu hanya bermaksud untuk dibaca saja. Kemudian muncul pertanyaan lain: Apa gunanya membaca jika tidak ada manfaat (atau pesan moral) yang diperoleh darinya?
Saya tidak ambil pusing mengenai hal tersebut. Saya lebih memilih menjawab: Baca saja dan jangan lupa untuk menikmatinya.
Membaca memiliki banyak arti bagi masing-masing orang yang menikmatinya. Ada yang sekedar ingin membunuh kebosanan, ada yang menjadikannya kegemaran, dan ada pula yang sedang menjadikannya sebuah referensi penelitian atau apapun. Saya lebih memilih untuk menikmati buku sebagai sebuah karya yang memang untuk dinikmati. Apapun itu. Misal, saat ini saya membaca beberapa buku dan bahan bacaan lain yang saya niatkan sebagai referensi untuk pengerjaan skripsi saya. Saya memiliki niat yang tersembunyi untuk menikmati bacaan-bacaan tersebut. Seolah saya sendiri yang menulisnya dan membaca ulang tulisan saya.
Disadari atau tidak, terkadang saya pun termasuk pemilih dalam urusan bacaan. Namun saya lebih memilih membaca buku sesuai dengan apa yang saya inginkan pada saat saya ingin membaca. Bisa jadi saya justru membaca sebuah jurnal tentang kebijakan politik suatu negara pada saat saya sebenarnya memerlukan referensi mengenai Marxisme untuk skripsi saya. Suatu pengalihankah? Saya rasa perilaku saya sebagai sebuah insting untuk menarik minat saya untuk membaca, setelah itu saya arahkan untuk membaca bahan bacaan yang memang saya perlukan. Seringkali saya memang membutuhkan sebuah pancingan untuk “memaksa” diri saya melakukan hal-hal yang merupakan kewajiban saya.
“Jadi, pesan moral dari ceritanya apa?”
Sudahlah, untuk apa dianggap terlalu serius. Nikmati saja.
 
Copyright 2011 Dhani Irawan