Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

DI PAMEKASAN




















Kami adalah tubuh yang tercipta dari sebuah pagi
Kami tempuh hari dengan suara-suara lenguhan
Dan mata para tuan yang berteriak kemenangan
Untuk sebuah kedudukan yang meninggi
Untuk apa yang dinamakan perigi

Di Pamekasan, kami menjelma sebuah keberangkatan
Menuju rindu yang tak pernah kami punya
Maka uraikanlah simpul yang membelit genggaman
Sebab sebuah rindu tak pernah berdaya

Ada perih yang terus membayang
Ada sakit yang tak kunjung membaik
Tapi kami tak boleh menyerah begitu saja
Disini kaki kami berpijak menahan semua perih dan sakit
Menuju rindu yang tak pernah tergapai

Segala peluh dan lenguh yang tumbuh
Tak pernah kuasa kami untuk mengaduh
Dari duri dedap kami geragap
Mata kami dikunci untuk satu tujuan pasti
Kulit kami digosok hingga kemilap
Agar kalian tidak tahu derita kami akan cemeti

Di kota ini, tubuh kami terjaga
Menghitung derap-derap kaki menghentak
Berlari menuju titian tangga
Menuju mereka yang bersorak serentak

Kami tak pernah paham perihal kerumunan di kerapan
Kami tak ambil pusing tentang bisikan halimunan
Kami tidak tahu, tidak mencari tahu, pun diberi tahu
Sebab kepulangan kami
Adalah penantian akan harga diri


25 September 2012

PAGI YANG BUTA

malam yang kau tempuh dengan hela nafas.
sebenarnya telah aku bunuh. lumpuh, habis gelapnya oleh subuh.
dia muncul beragan sebagai kenangan, hadir sepanjang jalan.
lalu pagi akan terseret. menyambutmu bak pendet.
dan kau lupa bahwa aku ada. kau sembunyikan macam delikan.
pagi yang buta. namamu adalah pesta pengakhiran akan sebuah dusta.

MENGUPAS BAWANG

katamu mengupas bawang itu bagian tersulit dalam
memasak. yang penuh dengan kejutan akan sebuah penglihatan
akan pesona seorang manusia. karena semakin tipis yang terkupas
menguak aroma ketajaman manusia

aku meletakkan sebutir telur di dahimu, yang
bahkan kau tak tahu itu disana. menghisap isi kepalamu
menjadi kuning telur yang semakin pekat. sepekat darah
mu yang penuh dengan dosadosa akan langit sore yang
melata diantara ratusan periperi kecil yang membisu

makan malam sudah hampir siap untuk dihidangkan
ke hadapan para tamu kelaparan. yang lapar akan sebuah
pembicaraan yang semu. tentang cinta kita yang terlalu
tanak dipanaskan, "sudah tidak enak," katamu
menjadi bubur yang lembek dan hambar

tetapi para tamu sudah berdatangan, bersiap
menikmati hidangan yang sudah tersaji
"biarlah" aku berkata, "apa adanya saja"
untuk apa ditutup-tutupi: bau bawang yang menguar

mei, 2012

JALAN PULANG















Di dadamu
Aku berpulang
Ada sungai yang tak tahu
Ke mana menuju
Pula, tak tahu 
Di mana muara
Di dadamu
Aku menunggu
Memiilin sisa angin yang tak lagi berhembus


Di setiap akhir waktu
Selalu ada kamu yang menggigil kepayahan
Menghadang runcing tetes hujan yang menerpa
Selalu ada aku yang menata
Langit memucat
Kedinginan
Maka, setiap awal aktu
Aku mencoba menyulap
Tiap-tiap kepahitan
Merupa jenis senyum yang terasingkan


Di dadamu, 
Selalu ada aku
Yang mengingat
Ke mana arah jalan pulang


Februari 2012

DESEMBER MEMBEKU


Desember membeku
Detik berjatuhan
Membasahi tubuhku
Menyamarkan sepi yang mengalir di pipi
Aku tahu kau pun begitu


Detik detik yang menjadi risau kesepian
Menerbangkan pasir pasir waktuku
Menuju entah
Dan aku juga tahu kau pun menyerah


Kita adalah Desember yang menggigil
Yang kehabisan waktu menuju resolusi awal tahun
Karena kita telah menghilangkannya
Detik-detik itu telah berhenti


Desember 2011

AKU BELAJAR MENCINTAIMU


Aku belajar mencintaimu
Ketika Tuhan menciptakan semesta
Dan kesedihan yang dirasa
Aku belajar mencintaimu
Sewaktu semesta mengabarkan kepunahan
Dengan tumbuhnya tetes air mata
Aku belajar mencintaimu 
Ketika Tuhan lupa pernah menciptakan cinta

CERITA DI UJUNG REL



















Kereta dan tiap tiap hela napas adalah perjalanan
Kamu yang menuju, tak pernah merasa pulih
Dari luka yang memerih
Dari rindu yang tersedan


Lukis tiap cerita di jendela
Yang tak selalu kau anggap langit
Karena pada setiap langit kau tempel serpihan


Kereta dan kenangan adalah tubuh waktu
Yang melacur dan penuh cacian
Tapi madah tak melulu mencibir
Kehidupan


Sepanjang gerbong kereta adalah teka teki
Penghabisan


Januari 2012
 
Copyright 2011 Dhani Irawan